Jumat, 6 Maret 2026
Mahasiswa Internasional yang tergabung dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UNPAR telah melaksanakan kegiatan Field Practicum dengan mengunjungi Kampung Adat Cireundeu pada Jumat (06/03). Kunjungan ini menjadi ruang belajar bagi para mahasiswa internasional untuk memahami budaya Sunda lebih dalam, sekaligus melihat langsung praktik nyata keberlanjutan hidup yang telah dijaga selama lebih dari satu abad.
Selama kunjungan, para mahasiswa memperoleh penjelasan mendalam mengenai sejarah tradisi masyarakat Kampung Adat Cireundeu salah satunya filosofi hidup Pikukuh Tilu. Prinsip ini mengajarkan keseimbangan antara mengingat Sang Pencipta (Inget ka Nu Kagungan), menjaga diri (Ngamumulé Awak Urang), dan menjaga tanah air (Ngamumulé Lemah Cai). Implementasi nyata dari filosofi ini terlihat pada pembagian kawasan hutan mereka yang sangat teratur, mulai dari Leuweung Larangan yang sakral dan tak boleh disentuh, Leuweung Tutupan sebagai area resapan air, hingga Leuweung Baladahan untuk bercocok tanam. Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa juga mendalami aturan adat yang unik, termasuk larangan mengenakan pakaian berwarna merah saat memasuki kawasan tertentu sebagai bentuk kerendahan hati dan penghormatan terhadap keseimbangan alam.
Prinsip menjaga alam ini dibuktikan salah satunya dengan kemandirian pangan mereka. Masyarakat Cireundeu sudah mengganti makanan pokok mereka dari nasi padi menjadi nasi singkong (Rasi) sejak tahun 1918. Mahasiswa BIPA UNPAR tidak hanya menyimak narasi sejarah, tetapi juga diajak menyaksikan proses produksi pengolahan singkong mulai dari tahap pengupasan, pencucian, pemarutan, penyaringan, hingga penumbukan singkong sebelum menjadi rasi.



Tak hanya soal pangan, para mahasiswa berkesempatan mempraktikkan alat musik tradisional Angklung Buncis. Di Cireundeu, instrumen ini biasanya dimainkan untuk mengiringi prosesi doa dan ritual adat yang dilakukan masyarakat di Puncak Salam. Meski baru pertama kali mencoba, para mahasiswa berhasil memainkan satu lagu dengan harmonis. Setelah mencoba bermain Angklung Buncis. Para mahasiswa juga mengeksplorasi berbagai produk inovasi warga yang memanfaatkan singkong sebagai bahan dasar, seperti dendeng kulit singkong, eggroll singkong, cimpring, kicipir, serta keripik kaca yang dijual di sana. Rangkaian Field Practicum ini ditutup dengan istirahat dan makan siang bersama. Menu yang disajikan adalah nasi singkong (rasi) lengkap dengan lauk pauk yang khas. Pengalaman dari kunjungan ini memberikan wawasan nyata bagi mahasiswa BIPA mengenai bagaimana tradisi, ketahanan pangan, dan keramahtamahan Indonesia tetap hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. [Ester Oka Nugraha & Davina Ramadhani]






